Warga Sesalkan Pemadaman Listrik Menjelang Sholat Maghrib

0
22

Wasiatriau.com -Pemadaman lampu listrik merupakan hal biasa bagi warga pulau Bengkalis, sebab boleh dikatakan hampir setiap minggu ada saja pemadam listrik.

Biasanya pemadam bergilir disaat sedang perbaikan jaringan, kerusakan trapo, serta disaat cuaca hujan lebat, angin kencang dan petir, pohon tumbang. Hal itu dapat dimaklumi oleh warga kondisi gangguan tersebut.

Namun berbeda dengan pemadaman yang terjadi sore kemarin, pasalnya pemadaman mendadak pas menjelang masuk sholat Maghrib.

Terutama bagi warga muslim yang akan berjemaah menunaikan shalat magrib di mesjid dan musholla. sebab kondisi dalam ruang ibadah sontak menjadi gelap, dan apalagi pengeras suara mendadak mati saat Muazin mau mengumandangkan azan Maghrib.

Seperti apa yang dialami jemaah mesjid Istiqomah Bengkalis, untung saja petugas mesjid dengan sigap dapat dengan cepat mengatasi kondisi, tidak lama berselang, lampu listrik dalam ruangan mesjid hidup kembali dibantu melalui arus mesin ginset yang telah distanbykan pengurus mesjid. Begitu juga alat pengeras suara, terdengar kembali lantunan suara adzan magrib yang dikumandangkan Muazin yang sempat terhenti sejenak suaranya karena mati listrik.

Melihat kondisi dalam mesjid gelap, Salah seorang jemaah bergumam sendiri, mati lampu lagi, hujan tidak, ribut petir tidak, tiba tiba lampu mati, heran pulak nengoknya. Ujar bapak paruh baya itu agak kesal sambil berjalan keluar dari ruang mesjid.

Tentu kondisi mati lampu di mushola yang terletak di desa agak berbeda suasananya, sebab tidak ada mesin ginset yang stanby sementara para jemaah yang baru mulai menunaikan shalat dalam kondisi gelap.

Ditempat terpisah, salah seorang warga Bengkalis, Jefri merasa kesal mati lampu mendadak, kenapa tidak, sebab rumahnya terpaksa gelap,karena tidak ada persiapan menyediakan lampu imergensi, dan alat penerangan lainnya.

Waktu Maghrib itu merupakan pergantian waktu siang ke malam, suasananya yang sangat sibuk warga melakukan aktivitas, terutama ibuk ibuk rumah tangga, mereka sibuk mengurus anak anaknya, ada yang merapikan tempat mengaji, menyiapkan hidangan buat makan malam, menunaikan sholat maqhrib, dan kegiatan lainnya.

Masih ucapan Jefri, seharusnya lampu listrik mati tidak diwaktu menjelang waktu sholat Maghrib, terkecuali kondisi alam membuat listrik mati, itu dapat dimaklumi.

” Listrik di pulau Bengkalis ini sering terjadi pemadaman lampu secara mendadak, bisa berdampak pada kerusakan elektronik rumah tangga warga, kalaupun ada surat edaran dari PLN atau pengumuman yang disampaikan lewat radio ataupun melalui pengumuman di media cetak maupun media sosial, namun masih ramai warga desa yang belum terpantau informasi itu, sebab keterbatasan sarana informasi “.

” Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan barang elektronik rumah tangga warga akibat pemadaman lampu tersebut, sementara warga merupakan konsumen yang patuh dan taat dengan aturan sebagai pelanggan PLN “. Terang Jefri dengan nada bertanya.

Beliau berharap kepada pemerintah daerah kabupaten Bengkalis dan DPRD Bengkalis, memanggil pimpinan PLN Bengkalis, dan duduk bersama mempertanyakan kondisi mesin listrik yang tersedia saat ini, apakah sudah tua dan tidak layak dipakai lagi, jika mesinnya sudah tidak layak pakai, maka harus dicari solusinya untuk dingganti atau menegement organisasi PLN di Bengkalis ini yang harus dibenahi, agar pengelolaan listrik lebih bersinar terang di pulau terubuk ini.

” Dalam kondisi listrik seperti ini, tidak bisa lagi dipandang sebelah mata,dan tidak bisa juga dibiarkan berlarut larut, harus ada upaya konkrit dari semua pihak sebagai pemangku kebijakan, ini adalah tanggung jawab kita bersama, karena ini merupakan hajat kepentingan kehidupan orang banyak “.

Jika listrik berjalan normal terang bersinar, tentu rakyat Bengkalis menjadi nyaman dan usaha masyarakat menjadi lancar. Ujar Jefri mengakhiri dengan penuh harap. (aba)

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY